Sabtu, 18 Oktober 2008

FUC*IN MLM 3

ADDUUUUUU OJAAAAAANNNN!!!! LAGI-LAGI DAN LAGI REPOST!!!! MAAP MAAP KLO REPOST MULU!!!!!





Akhirnya ada kesempatan juga buat menulis part 3 dari pendapat saya mengenai MLM Tianshi ini. OK, review sedikit… Di part 1, saya sudah menuliskan pendahuluan, bagaimana saya berkenalan dengan MLM Tianshi… Di part 2, saya sudah menjabarkan pendapat saya mengenai sistem network marketing secara umum dan MLM Tianshi secara khusus. Di sana telah saya jelaskan hal apa yang menjadi masalah paling utama dari network marketing, yang selalu ditutup-tutupi oleh para pengikut MLM dengan begitu baiknya. Pada postingan kali ini, part 3, saya akan membahas mengenai sebuah isu MLM yang menurut saya lebih penting dibandingkan sistemnya, yaitu isu moral…
Saya akan memulai pendahuluan postingan ini dengan sebuah pertanyaan. “Kenapa sih presentasi MLM itu sangat menarik (atau setidaknya cukup menarik) untuk orang yang pertama kali mendengarkannya?” Hal itu juga yang saya alami ketika pertama kali saya dipresentasikan mengenai MLM Tianshi ini. OK, saya akan jawab pertanyaan itu dengan jujur - sejujur-jujurnya - saat itu saya begitu tertarik akan MLM Tianshi ini karena (berdasarkan presentasi yang saya dengar waktu itu) saya akan bisa mendapatkan penghasilan pasif, saya akan bisa mendapatkan banyak uang (bahkan ga usah kerja kalau sudah dapat penghasilan pasif, apalagi kalau sudah financial freedom). Selain itu, saya bisa dapat BMW, kapal yacht, atau bahkan pesawat terbang… Saya akan dapat menikmati semua kemewahan itu. Kalau saya sudah memiliki uang, saya akan bisa mendapatkan segalanya (mengutip kata-kata Pak Louis Tendean, petinggi MLM Indonesia, yang mendapatkan istrinya dari sebuah BMW)…
Jawaban di atas adalah jawaban yang terlalu jujur… Kadang saya berpikir, kalau saya akhirnya ikut MLM lalu ditanyakan kenapa saya ikut MLM, mungkin saya tidak akan berkata sejujur itu. Sangat mungkin buat saya untuk memberikan alasan seperti “alasan utama saya untuk membantu orang lain…”, atau “alasan utama saya untuk membahagiakan orang yang saya kasihi”, atau “alasan utama saya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan Indonesia”. Padahal, alasan utama sebenarnya adalah karena saya mau dapat banyak uang dan nantinya… suatu saat nanti kalau saya sudah sukses, saya akan dapat menikmati semua kemewahan yang didapatkan, mendapatkan financial freedom supaya saya tidak perlu kerja lagi dan duit terus mengalir, mendapatkan time freedom supaya saya bisa bermalas-malasan dan bersenang-senang sepanjang waktu. Nah, seberapa banyak dari Anda yang mengikuti MLM yang memiliki pikiran seperti di atas?
“Lalu apa salahnya punya keinginan seperti di atas? Mendapatkan financial freedom dan time freedom? Tidak perlu munafik deh, semua orang pasti mau financial freedom dan time freedom…” Mungkin Anda berpikir seperti ini bukan? OK, akan saya bahas satu-satu…
Apa salahnya punya keinginan seperti di atas? Yang dipermasalahkan sebenarnya bukanlah keinginannya, tapi kenapa Anda mempunyai keinginan itu? Apapun alasan Anda, tidak dapat dipungkiri, alasan utamanya adalah karena keserakahan dan kemalasan. Serakah ingin mendapatkan banyak uang, BMW, kapal, dan pesawat, dan malas bekerja terus menerus, kalau bisa tidak bekerja, ya kenapa harus bekerja? Maklum, kedua sifat ini (keserakahan dan kemalasan) termasuk dalam sifat dasar manusia. Sifat itu jelas adalah sebuah sifat yang buruk, yang perlu diubah… Nah, masalahnya, presentasi MLM ini sangat menggoda sifat keserakahan dan kemalasan manusia, dan mereka dapat dengan sukses membungkus keserakahan dan kemalasan itu ke bentuk-bentuk lain yang terlihat lebih baik, seperti financial freedom dan time freedom. Itu membuat orang-orang yang dipresentasikan seringkali tidak sadar telah dibangkitkan sifat keserakahan dan kemalasannya.
Kedua sifat inilah yang biasanya membutakan semua keburukan-keburukan yang ada di MLM. Gampangnya, kedua sifat ini akan membuat seseorang hanya mementingkan dirinya sendiri. Contoh: “Yang penting saya sukses, yang nanti bakal gagal yah bodo amat… Yang penting saya sudah sukses…”
Next… Saya mendapati sebuah hal yang menurut saya menjadi senjata andalan MLM-ers saat presentasi tentang MLMnya. Apa itu? “Jangan pernah mengakui kalau diri saya salah. Jangan pernah tunjukkan keburukan dari MLM saya. Balikkanlah semua kata-kata yang dilontarkan orang yang saya presentasikan… Dan jangan lupa, bangkitkanlah ego dan harga diri dari orang yang saya presentasikan, supaya dia senang…” Biasanya, untuk beberapa hal, senjata di atas diberi nama “berpikir positif”.
Contoh: Saya pernah menolak ketika sedang dipresentasi dengan alasan “Saya sudah pernah dipresentasikan tentang ini kok. Saya tidak mau ikut…”. Tentunya, sang presenter tidak akan berkata, “Ayo dong ikut… Saya kan butuh downline nih…”, meskipun siapa tahu hatinya berkata begitu? Sang presenter yang mempresentasikan saya waktu itu memberikan jawaban yang sangat manis kedengarannya buat saya, yang saya tidak yakin dia mengucapkannya murni dari hatinya. Dia menjawab begini: “Wah! Bagus itu… Itu artinya banyak orang melihat kamu memiliki potensi untuk ikut bisnis ini…”. Nah, refleks manusia memang kalau dipuji seperti itu akan cepat senang, dan akhirnya (mungkin) dengan senang hati langsung ikut bisnis ini, dengan pikiran “orang lain melihat saya berpotensi di bisnis ini, saya hebat euy…”. Ego saya sedang dibangkitkan secara tidak sadar oleh sang presenter, dan kalau ego seseorang sudah bangkit, orang tersebut akan gampang “dikendalikan” oleh orang lain.
Teknik-teknik macam di atas yang banyak dipraktekkan oleh presenter MLM. Itu sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka, karena teknik-teknik itulah yang mereka dapatkan dari seminar-seminar yang diadakan, macam vision seminar atau seminar-seminar MLM lainnya. So, berhati-hatilah kalau ego Anda mulai dibangkitkan… Mereka mudah sekali memainkan kata-kata dengan kata-kata yang manis!
OK… next…
Setiap kali saya akan dipresentasikan tentang MLM ini, sang presenter tidak akan langsung terang-terangan berkata “Hai Charles… Kapan ada waktu kosong? Saya mau presentasi MLM nih…”. Selalu ada alasan lain (kadang berupa kebohongan, kadang ditutup-tutupi - intinya tabu untuk menyebut istilah MLM saat mengajak mengadakan pertemuan). Saya sendiri pernah diajak ketemu dengan alasan “penawaran bisnis bagus” dan tidak pernah diberitahu bahwa dia akan mempresentasikan tentang MLM sampai saya duduk mendengarkan presentasi dia.
Kenapa ya kira-kira mereka tidak mau berterus terang ingin mempresentasikan MLM? Jawaban jujur: karena MLM banyak keburukannya, dan citranya sudah tidak baik di beberapa lingkungan. Kenapa bisa sampai tidak baik? Pasti ada alasannya (salah satunya adalah sistemnya yang saya bahas di part 2), sesuatu yang tidak dapat dijawab oleh orang yang ikut MLM. Apakah ada MLM-ers yang berani menjawab permasalahan MLM yang saya berikan di part 2? Tentunya tidak akan bisa, karena yang salah adalah sistemnya. Yang mereka bisa lakukan hanyalah menutupinya sedemikian rupa sehingga tidak ketahuan sama orang yang akan mereka presentasikan.
OK, itu adalah jawaban jujurnya kenapa mereka tidak menyebut kata “MLM” saat mengajak ketemu. Lalu apa sih alasan yang diberikan “petinggi mereka” yang sebenarnya suka-tidak-suka telah mencuci otak mereka? Kata petinggi mereka kurang lebih seperti ini: “Kalian tentunya ingin teman Anda sukses bukan? Kalau Anda ingin teman Anda sukses, Anda harus menawarkan bisnis ini kepada dia! Tapi…. jangan sekali-kali menyebutkan kalau kalian ingin presentasi MLM ke dia saat mengajak ketemuan. Kenapa? Karena kalau buat yang belum ikut, biasanya citra MLM itu buruk di mata mereka. Kenapa? Karena mereka belum ikut… Kalau mereka sudah ikut nanti, mereka akan berterima kasih pada kita. Jadi, kalau kalian menyebutkan kata ‘MLM’, orang itu pasti tidak datang karena sudah pesimis duluan, dan akhirnya kita tidak dapat membuat mereka jadi sukses”. Nah, bagaimana? Apakah Anda mulai terpengaruh dengan ucapan ini dan melupakan jawaban jujur di paragraf sebelumnya? Jika ya, saya harus mengatakan, Anda telah berhasil dicuci otak oleh para petinggi MLM…
OK…. Sebelum Anda membaca paragraf berikut, pastikan Anda sudah mengerti semua bagian yang saya tuliskan sebelumnya. Jika Anda bersikap objektif, Anda pasti mengakui keburukan-keburukan MLM tersebut… Kalau Anda masih belum menemukan keburukannya, sangat mungkin Anda adalah seorang yang egois, yang hanya mementingkan kepentingan sendiri saja. Jujur, sebagai seorang yang beragama, saya merasa tidak nyaman dengan kata-kata “financial freedom” karena itu benar-benar membangkitkan keserakahan saya. Selain itu, setelah saya mempunyai banyak uang dan dapat melakukan segalanya dengan uang itu, sangat mungkin saya hidup tidak bergantung lagi pada Tuhan, tapi pada uang dan diri saya sendiri. Seperti kata kitab suci: “Akar dari segala kejahatan adalah cinta uang”. Kalau ada yang menjawab demikian: “Jangan munafik! Sekarang semuanya juga butuh uang… Kamu pasti pengen financial freedom juga kan???” - dengan berat hati saya mengatakan, orang itu tidak memperbaiki kesalahan yang ada pada dirinya, tetapi malah mencari-cari kesalahan orang lain untuk membenarkan dirinya. Kasarnya: “Semua orang kan sudah jahat… Ngapain juga ada orang yang berusaha melakukan hal baik, padahal jahat juga…”. Cobalah renungkan, lebih baik mana, tetap jahat atau berusaha memperbaiki diri setiap hari sedikit demi sedikit? Kok jadi ngomong sampai ke sini, hehe… OK, kalau sudah siap, silakan baca paragraf selanjutnya…
Ada satu hal yang menyangkut moral, yang tidak dapat dilepaskan dari orang yang sukses di bisnis ini. Apa itu? Mereka yang ingin sukses di bisnis ini, suka-tidak-suka, mau-tidak-mau, harus menjadi salesperson of sin. Apakah itu? Saya akan menjelaskannya sebagai berikut:
Fakta 1: MLM memiliki banyak keburukan, dimulai dari sistemnya yang mengharuskan banyak orang gagal pada akhirnya (baca part 2), presentasi yang tidak jujur, dll… *jangan teruskan membaca kalau Anda masih tidak mempercayai fakta 1 ini, ulangi baca part 1, 2, 3*
Fakta 2: Untuk menjadi sukses di MLM, harus punya downline dong… Semakin banyak, semakin bagus…
Fakta 3: Untuk mendapatkan downline, “calon downline” harus dipresentasikan tentang MLM ini, dan diusahakan sebisa mungkin, agar dia tertarik untuk ikut…
Fakta 4: Supaya orang-orang tertarik untuk ikut, sembunyikan sebisa mungkin keburukan-keburukan yang ada di MLM ini. Bungkus dengan hal-hal yang manis. Jangan pernah tunjukkan kelemahan dasar yang ada. Intinya, jangan pernah berikan fakta 1 (MLM memiliki banyak keburukan).
Fakta 5: Tentu diperlukan kebohongan-kebohongan untuk mendukung fakta 4… Setidaknya, ketidakjujuran jika ditanya “Keburukan MLM ini apa?”. Akhirnya, banyak ketidakjujuran yang ada di presentasi, yang bisa dikatakan, penipuan terselubung… Tentu tidak akan pernah dikatakan tentang tulisan saya di part 2 kepada mereka yang dipresentasikan oleh MLM-ers bukan?
Fakta 6: Jika Anda memiliki hati nurani dan objektif, Anda pasti tidak ingin menjadi bagian dari orang yang mengakibatkan kegagalan banyak orang lain bukan? Sayangnya, satu-satunya cara untuk tidak menyebabkan banyak-orang-lain-gagal-suatu-hari-nanti adalah dengan tidak memiliki downline, dan itu artinya Anda akan gagal.
Sekarang, berbahagialah Anda jika Anda belum ikut MLM, karena Anda tidak mengalami dilema yang dihadapi orang yang sudah ikut MLM berikut ini:
Di satu sisi, orang yang ikut MLM pasti ingin sukses… Artinya, mereka harus mendapatkan downline, dan itu berarti mereka telah memiliki andil atas kegagalan banyak orang saat terjadi kejenuhan pasar, dan lebih parah lagi, mereka telah memberikan dilema yang sama pada downline mereka! Kasarnya: downline mereka menjadi tumbal… Mereka telah menjadi salesperson of sin…
Agar tidak menjadi salesperson of sin, satu-satunya cara yang dapat ditempuh adalah tidak merekrut downline. Artinya, satu kata saja, gagal! Kontradiksi dengan keinginan mereka di awal ikut bisnis ini untuk sukses… Sebuah dilema…
Sungguh ironis… pengikut MLM ini harus memilih, menjadi salesperson of sin atau menjadi gagal! Sesuatu yang tidak perlu dipilih oleh orang yang tidak ikut MLM… Mau sukses di MLM berarti menjadi salesperson of sin. Apakah presenter Anda memberitahu hal ini saat mempresentasikan tentang MLM ini ke Anda? Jika tidak, maaf kata, Anda telah dijadikan tumbal oleh upline Anda… Silakan Anda minta pertanggungjawaban upline Anda untuk hal ini.
~buat yang belum dapet dilema, jangan nyari-nyari dilema…

Tidak ada komentar: